Pembinaan Wakil Ketua PTA Kalsel di PA. Pelaihari

Firdaus

Wakil Ketua PTA Kalimantan Selatan Bapak Drs. H. Firdaus Muhammad Arwan, SH, MH. [foto: Respati]

Pelaihari | pa-pelaihari.go.id

Terkait penyusunan program kerja Wakil Ketua Pengadilan Tinggi Agama Kalimantan Selatan Bapak Drs. H. Firdaus Muhammad Arwan, S.H., M.H. menyampaikan bahwa dalam merencanakan sebuah kegiatan buatlah program kerja yang konkret progresif memakai kebijakan, sasaran dan target. Program kerja perlu untuk menjadi pedoman atau pijakan setiap pejabat dan bawahan dalam melaksanakan tugas. IKU yang dibuat kebanyakan hanya secara garis besar, program kerja pun dibuat masih secara garis besar belum program menyeluruh sampai komponen terbawah. Program kerja tersebut dibuat dan dilakukan pengesahan oleh Ketua dan dievaluasi setiap bulannya.

Berikut tips beliau agar tidak ada pekerjaan lembur. Pada akhir bulan Panitera atau Sekretaris melakukan rapat evaluasi kerja bersama seluruh komponennya, kemudian di awal bulan dilapokan pada rapat pimpinan, dievaluasi apakah sudah benar apa belum, apakah ada yang perlu dirubah, siapa tahu ada usulan-usulan yang memang program kerja bulan ini harus dilakukan penyesuaian dengan kondisi yang ada. “Nah kalau ini dijalankan tidak akan ada pekerjaan yang tertinggal, tidak akan pernah ada pekerjaan yang harus dilembur, tidak ada pekerjaan yang tidak selesai.” pungkasnya.

Negara melalui Menteri Pendayagunaan dan Aparatur Negara mengakui bahwa di semua lini di institusi manapun yang paling lemah adalah di tahapan koordinasi dan evaluasi. “Oleh karenanya dan telah diakui negara ini menjadi kelemahan di seluruh kementerian dan kelembagaan adalah pada bagian koordinasi dan evaluasi. Saya berharap di sini pun telah berjalan koordinasi dan evaluasi secara rutin, jangan hanya insidental tapi betul-betul dilakukan secara terencana dan terarah.”

Pembinaan

Rapat pembinaan berlangsung di Ruang Sidang Utama PA.

Kemudian beberapa pembahasan lainnya yang beliau sampaikan dalam rapat pembinaan di Ruang Sidang Utama Pengadilan Agama Pelaihari 11 Mei 2018 dimulai pukul 09:00 WITA ini, antara lain:

– Pemberdayaan Hawasbid. Hakim pengawas bidang harus bisa bersinergi dengan pimpinan dalam hal pengawasan.

– Prinsip yang harus dipegang oleh jurusita maupun jurusita pengganti, seorang js / jsp wajib menyampaikan baik itu panggilan maupun pemberitahuan kepada yang bersangkutan secara langsung dan pribadi, tidak boleh tidak kepada yang bersangkutan kecuali dibenarkan oleh Undang-Undang.

– Pejabat kepaniteraan yang bertindak sebagai panitera pengganti persidangan harus bisa menyusun Berita Acara Sidang dengan gaya bahasa yang tidak menimbulkan anggapan atau persepsi negatif yang seakan-akan sifatnya memihak. Sebagai contoh ketika Hakim sedang bertanya kepada penggugat, “Apakah ada yang ingin Saudara tambahkan lagi?”, atau “Apakah ada perubahan atau tidak?”. Panitera pengganti dalam menulis Berita Acara Sidang sebaiknya mengganti kalimat tadi sebagai berikut, “Apakah ada yang ingin Saudara sampaikan?”.

– Mediasi. Damai itu satu orang? ataukah dua orang? Jawaban beliau, damai tidak bisa dilakukan hanya dengan satu orang. Memberikan nasihat supaya ditempuh jalan damai merupakan pemilihan kalimat yang tepat.

– Membaca putusan, atau dibacakan putusan. Putusan itu dianggap ada ketika diucapkan oleh Hakim. Sementara yang dibacakan dinamakan konsep putusan, bukanlah sebuah putusan. Jadi adanya putusan adalah ketika diucapkan, bukan yang dibacakan, karena yang dibacakan adalah konsep putusan. “… kemudian majelis hakim bermusyawarah, dan setelah mempertimbangkan selanjutnya menjatuhkan putusan yang diucapkan oleh ketua majelis …”

– Kemudian potongan kalimat “menghadap di” ataukah “menghadap ke”. Beliau mencontohkan dengan potongan kalimat “menghadap ke kiblat”. Jadi tidak benar penggunaan kalimat “menghadap di persidangan”, yang benar adalah “menghadap ke persidangan”.

Masih banyak lagi yang beliau sedekahkan ilmunya kepada aparatur Pengadilan Agama Pelaihari. Sesi tanya jawab terasa seru dengan jawaban beliau yang sangat lugas hingga rapat diberhentikan sejenak karena kewajiban shalat Jumat. Namun rapat belum usai, dilanjut setelahnya yaitu rapat khusus pimpinan dan hakim di Ruang Rapat Pimpinan hingga petang.

“Rugi jika saya datang ke PA. Pelaihari hanya untuk duduk dan mengobrol saja, harus ada yang saya sampaikan yang bisa membawa manfaat.” ujar beliau mengakhiri kunjungannya sebagai Wakil Ketua PTA Kalimantan Selatan yang telah dipromosikan menjadi Ketua PTA Jayapura.